A Little Blog by a student

What do you expect?

 

Cerita Inspirasi 2 – MPKMB 47

 

Siti Chadijah Dwiluthfianti

A44100095

LASKAR 27

Nama saya Siti Chadijah. Ibu saya memberikan nama demikian, karena beliau mengharapkan seorang anak yang mirip seperti Khadijah, istri pertama dari Rasulullah saw. Entah mirip wajahnya, atau mirip perangainya. Walaupun wajah dan perangai saya jauh dari keinginan ibu saya, namun sosok Khadijahlah yang membuat saya terkesima.

Khadijah adalah wanita kaya raya, dari silsilah keluarga yang terpandang. Wajahnya cantik nan rupawan. meskipun ia seorang janda, banyak lelaki di Makkah yang ingin menikahi beliau. Namun, Khadijah sendiri yang memilih pendamping hidupnya. Dialah Muhammad bin Abdullah. Seorang anak miskin, namun memiliki silsilah keluarga yang bagus. Perangai dan sifatnya mulia pula. Meski perbedaan umur yang begitu jauh, namun mereka hidup sebagai sepasang suami istri yangberbahagia.

Yang memukau saya bukanlah kemampuannya untuk memilih lelaki yang pantas untuk menjadi pendamping hidupnya. Bukanlah kekayaannya, bukan pula silsilahnya. Namun pengabdiannya kepada sang Suami yang membuat saya kagum. Beliau tidak pernah mengeluh. Seluruh kebutuhan suaminya dipenuhinya dengan senang hati. ia korbankan jiwa dan raganya untuk suami. Hartanya pun dikorbankan hanya untuk suaminya.

Suaminya, Muhammad bin Abdullah, seorang Rasul Allah. Pejuang penegak agama Allah. Rintangan yang dihadapi beliau sangatlah berat. Tentu berat jika harus di pikul sendiri. Pada saat itulah, Khadijah, istrinya yang paling setia, membantunya untuk terus maju. Membantu sebisa mungkin, mengorbankan apapun yang ia miliki, untuk membantu tugas suami tercinta. Itulah yang saya kagumi, yang saya resapi, yang ingin saya praktekkan nanti ketika saya sudah menikah.

Suami saya nantinya bukanlah seorang nabi. Namun suami saya nantinya adalah seorang pejuang juga. Berjuang dalam mencari nafkah, berjuang dalam memimpin keluarga. Kewajiban sayalah untuk menyokong dia, mencoba untuk meringankan beban dia. Bersama-sama membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah.

Insha Allah, saya akan menjadi the next Khadijah :)

 

Cerita Inspirasi – MPKMB 47

 

Siti Chadijah Dwiluthfianti

A44100095

Laskar 27

MPKMB 47 adalah kegiatan IPB dalam memperkenalkan IPB kepada mahasiswa/i barunya kepada lingkungan kampus dan sekitarnya. Dalam kegiatan ini, kami, saya dan teman-teman sesame angkatan 47 sebagai mahasiswa baru, ditugaskan untuk membuat cerita inspirasi. Sumbernya adalah diri sendiri, dan orang lain diluar IPB. Untuk tulisan ini, saya akan menceritakan cerita inspiratif dari diri saya sendiri.

Siapakah saya? Apa yang bisa saya ceritakan kepada dunia mengenai diri saya sendiri? Sesuatu yang dapat menginspirasi banyak orang? Apakah saya mempunyai kapasitas untuk itu? Berbagai pertanyaan muncul dalam benak saya. Saya bukanlah seseorang yang membanggakan. Prestasi akademik saya biasa-biasa saja, diluar akademik pun saya tidak terlalu menonjol. Dapat dibilang, saya manusia biasa-biasa saja.

Namun, saya rasa saya memiliki beberapa cerita yang dapat dibagikan. Cerita yang mungkin akan menginspirasi kalian. Siapa tahu, cerita ini berguna kepada kalian. Jika tidak, anggap saja hanya sebuah hiburan atau sebagai bacaan ringan dikala senggang.

Beberapa bulan yang lalu, prioritas saya adalah LULUS TES TEKNIK ARSITEKTUR UNIVERSITAS INDONESIA. Prioritas saya, yang diletakkan paling atas, paling penting dalam otak saya. Yang saya tulis besar-besar di atas kertas karton dan saya tempelkan di lemari. Prioritas itu saya ingat setiap hari, tulisan itu saya lihat dan resapi setiap hari. Seluruh pikiran saya hanya untuk mencapai prioritas saya yang satu itu. Tak pernah saya menjadi begitu ambisiusnya.

Namun, takdir berkata lain. Pada tes terakhir, SNMPTN, saya hanya mampu lulus di pilihan kedua. Arsitektur lanskap IPB. Saya harusnya bersyukur, karena saya lulus. Banyak teman saya yang nasibnya tidak sebaik saya. Saya lulus, di sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Dambaan banyak orang. Tapi saya menangis, sedih. Kecewa. Dan segenap perasaan berkecamuk dalam hati saya.

Saya tahu saya seharusnya bersyukur. Namun hati saya tetap saja tidak terima. Setelah perjuangan saya, tes berkali-kali, belajar hingga larut malam, tapi yang saya dapatkan ‘hanya’ di pilihan kedua. Saya menangis, merasa dunia ini tidak adil.

Saya ingat cerita guru saya, seorang guru kimia yang sangat dekat dengan murid-muridnya, yang merasakan hal yang sama seperti saya dulu. Dikala keinginan dia tidak tercapai dan ‘hanya’ kuliah di jurusan pendidikan kimia, dia menjalaninya dengan setengah hati. Namun pada akhirnya, saat ia menjalani PKL, dia berubah menjadi mencintai kimia. Dan hingga akhirnya dia menjadi guru kimia sampai saat ini. Sebuah rasa yang tidak pernah terlintas di otaknya dahulu saat baru masuk kuliah.

Saya, pada dasarnya, masih sangat ingin kepengen banget kuliah di jurusan diatas. Tapi, kita tidak tahu bagaimana kedepannya. Bagaimana takdir akan membawa kita. Bagaimana Tuhan mempunyai rencana untuk kita. Manusia dapat berencana, namun Tuhan yang akan menentukan. Ya kan?

Lagipula, ketika saya sendiri tidak mempercaya Tuhan yang saya akui, saya harus percaya kepada siapa lagi?

Atas dasar itulah, dan berbagai alasan lain, saya memutuskan untuk mengambil kesempatan ini. Kesempatan untuk menjadi mahasiswi di kampus ini. Tidak buruk kan? Dari perspektif orangtua, PTN toh, biayanya tidak terlalu memberatkan. Juga mampu dibanggakan ke tetangga-tetangga sekitar. Dari perspektif diri sendiri, toh banyak teman juga yang masuk sini. Jadi, sepertinya tidak ada salahnya bukan?

So, here I am. Di Institut Pertanian Bogor. Di kampus yang gedungnya berbentuk segitiga bersambung semua. Empat tahun saya akan belajar disini. Mencari ilmu, pengalaman, relasi dan kesempatan untuk berkembang. Syukur-syukur saya bisa menjadi orang yang berguna untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain.

Tapi tidak tertutup kemungkinan saya akan mencoba tahun depan lho ;)